Senin, 14 Mei 2018

Keluarga sebagai Tempat Pembinaan Akhlak pada Masa Kanak-kanak



KELUARGA SEBAGAI TEMPAT PEMBINAAN AKHLAK PADA MASA KANAK-KANAK
Putri Utami
(2021116011)



Abstrak
Penulisan ini bertujuan untuk mengungkap seberapa penting dan besar peranan keluarga terutama kedua orang tua dalam pembinaan akhlak anak, tujuan dari pembinaan akhlak serta bagaimana cara yang tepat dalam melakukan pembinaan anak pada masa kanak-kanak. Pembinaan akhlak anak sejak masa kanak-kanak sangatlah utama dan penting karena anak merupakan amanat dari Allah SWT yang harus dijaga dan dilindungi dengan penuh tanggung jawab dan kasih sayang. Salah satu bentuk dalam pemberian tanggung jawab dan kasih sayang tersebut yaitu dengan memberikan pembinaan akhlak mulia sejak masa kanak-kanak agar dapat mencapai masa depan dan kehidupan yang baik, damai, serta bahagia di dunia dan di akhirat. Hal tersebut tidak terlepas dari peran keluarga terutama kedua orang tua dalam membina, membimbing dan membangun akhlak anak sejak usia kecil karena keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama dan utama sehingga dapat memberikan pembinaan, pendidikan, dan bimbingan yang baik dan tepat.

Kata Kunci: Keluarga, Pembinaan Akhlak, Masa Kanak-kanak

Pendahuluan
           Pembinaan akhlak pada masa kanak-kanak sangatlah utama dan penting terutama di kehidupan zaman modern ini. Pembinaan  akhlak tersebut tentunya tidak terlepas dari peran keluarga terutama kedua orang tua dalam memberikan dan menanamkan akhlak pada anak agar anak dapat mencapai kehidupan yang baik, terarah, damai, bahagia di dunia dan di akhirat.
         Keluarga merupakan lingkungan yang pertama dan utama dalam memberikan pembinaan akhlak karena anak dapat mengenal dan memperoleh pendidikan pertama kali di lingkungan keluarga, bahkan dapat berlangsung pada saat anak masih di dalam kandungan ibunya.
            Dalam pembinaan akhlak anak, pasti memiliki tujuan yang sangat penting dan bermanfaat. Untuk mencapai tujuan dalam pembinaan akhlak tersebut tentunya terdapat beberapa metode atau cara yang dapat digunakan oleh orang tua dalam membina anak-anaknya dimana metode atau cara tersebut harus ditanamkan dan dipraktekkan sejak anak masih kecil agar ia memiliki bekal ilmu, akhlak dan tujuan hidup yang baik.
            Pembinaan akhlak dalam keluarga merupakan dasar bagi perkembangan anak pada masa berikutnya. Di dalam lingkungan keluarga segala sikap maupun tingkah laku orang tua sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak. Oleh karena itu, keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam pembinaan akhlak anak.  Sikap dan tingkah laku orang tua yang baik maka akan memberikan dampak yang baik bagi perkembangan anak begitupun sebaliknya.
Menurut Abu Ahmadi (2004:108) keluarga adalah wadah yang sangat penting di antara individu dan group, dan merupakan kelompok sosial yang pertama dimana anak-anak menjadi anggotanya. Dan keluargalah yang sudah tentu menjadi tempat untuk mengadakan sosialisasi kehidupan anak-anak. Ibu, ayah dan saudara-saudaranya serta keluarga-keluarga yang lain adalah orang-orang yang pertama dimana anak-anak mengadakan kontak dan yang pertama pula untuk mengajar pada anak-anak itu sebagaimana dia hidup dengan orang lain.
Nurul Zuriah (2008:57) mengatakan “pembinaaan dapat diartikan sebagai kegunaan yaitu merubah sesuatu sehingga menjadi baru yang memiliki nilai-nilai yang tinggi. Dengan demikian pembinaan juga mengandung makna sebagai pembaharuan, yaitu melakukan usaha-usaha untuk membuat sesuatu menjadi lebih baik dan lebih bermanfaat”.  Jadi, dapat dikatakan bahwa pembinaan merupakan usaha dengan membimbing dan membentuk sesuatu untuk berubah ke arah yang lebih baik dan lebih bermanfaat.
            Di dalam ajaran Islam, akhlak tidak dapat dipisahkan dengan iman. Iman merupakan pengakuan hati. Akhlak merupakan pantulan iman pada perilaku dan ucapan. Iman adalah maknawi, sedangkan akhlak merupakan bukti keimanan dalam perbuatan yang dilakukan dengan kesadaran dan karena Allah semata.
Kata ‘’akhlak’’ berasal dari bahasa arab, yaitu jama dari kata ‘’khuluq’’ yang secara ligustik diartikan sebagai budi pekerti, perangai, tingkah laku, tabiat, tata krama, sopan santun, adab dan tindakan. Adapun pengertian akhlak secara istilah menurut Ibnu Miskawaih mengatakan akhlak  ialah sifat yang tertanam di dalam diri yang dapat mengeluarkan sesuatu perbuatan dengan senang dan mudah tanpa pemikiran, penelitian dan paksaan, (Sofyan Sauri, 2011:6).
            Masa kanak-kanak dalam Islam digambarkan sebagai suatu keindahan dunia yang diliputi oleh kebahagiaan, keindahan, cita-cita, cinta dan fantasi. Banyak sekali ayat-ayat Al-Qur’an yang menunjukkan kecintaan Tuhan terhadap anak. Seperti dalam Qs. Al-Kahfi ayat 46 Allah berfirman:
الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا (46)
Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan”. Qs. Al-Kahfi ayat 46.
            Oleh karena itu jelaslah bahwa perhatian Islam terhadap anak bahkan sudah dimulai sejak jauh sebelum mereka dilahirkan, karena Islam memperhatikan pengembangan intelektualitas yang sehat serta rencana masa depan anak. Untuk itu, manusia diperintahkan untuk senantiasa mengamalkan aspek amaliyahnya pada realitas ketundukkan pada Allah, tanpa batas, tanpa cacat, dan tanpa akhir. Sikap yang demikian akan senantiasa mendorong dan menjadikannya untuk cenderung berbuat kebaikan dan ketundukan pada ajaran Tuhannya, (Al-Rasyidin dan Samsul Nizar, 2008:11).

Pembahasan
Makna Kelurga sebagai Pembinaan Akhlak Anak
            Menurut Yanuhar Ilyas (2005:4), mengatakan bahwa lingkungan yang terdekat dengan kita adalah lingkungan keluarga. Keakraban kita terhadap seluruh anggota keluarga memungkinkan ketidaksungkanan terlontarnya kritik dan saran terhadap diri kita. Jadi, lingkungan keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama yang dapat membentuk dan membangun akhlak anak. Oleh karena itu peran keluarga sangatlah penting dan dibutuhkan untuk membina akhlak pada anak. Dalam hal pembinaan tersebut peran kedua orang tua, saudara, sangatlah penting terutama peran seorang ibu yang sangat lebih penting dalam pembinaaan akhlak anak karena ibu adalah seseorang yang mengandung dan melahirkan anak sehingga jauh memiliki ikatan batin dan rasa kenyamanan yang lebih kuat pada anak, oleh karena itu ibu dijadikan sebagai tempat madrasah yang pertama dan utama bagi anak-anaknya dalam lingkungan keluarga untuk meberikan pendidikan agama, membimbing dan membina akhlak anak yang baik semenjak usia kanak-kanak.
Mansur (2009:271) mengatakan pembinaan akhlak dalam keluarga menjadi ujung tombak bagi pembentukan watak atau karakter bangsa. Apabila setiap keluarga mampu menampilkan akhlak maka akan nampak pula akhlak dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan demikian keluarga dipandang sebagai peletak dasar pembinaan akhlak. Kedudukan keluarga sebagai lembaga pendidikan sangat vital, bagi kelangsungan pendidikan generasi muda maupun bagi pembinaan bangsa pada umumnya. Dengan demikian, keluarga merupakan institusi yang pertama kali bagi anak dalam mendapatkan pendidikan dari orang tuanya. Jadi keluarga mempunyai peran penting dalam pembentukan akhlak anak, oleh karena itu keluarga harus memberikan pendidikan atau mengajar anak tentang akhlak mulia. Orang tua haruslah mengajarkan nilai dengan berpegang teguh pada akhlak di dalam hidup, membiasakan akhlak yang baik semenjak usia dini.

Peran Keluarga dalam Pembinaan Akhlak Anak
Kewajiban keluarga dalam pembinaan akhlak adalah sebagai berikut:
1.      Memberi contoh kepada anak dalam berakhlak mulia. Sebab, orang tua yang tidak berhasil menguasai dirinya tentulah tidak sanggup meyakinkan anak-anaknya untuk memegang akhlak yang diajarkannya
2.      Menyediakan kesempatan kepada anak untuk mempraktikan akhlak mulia dalam keadaan bagaimanapun
3.      Memberi tanggung jawab sesuai dengan perkembangan anak. Pada awalnya
4.      Orang tua harus memberikan pengertian terlebih dahulu, setelah itu baru diberikan suatu kepercayaan pada diri anak itu sendiri.
5.      Mengawasi dan mengarahkan anak agar selektivitas dalam bergaul.

Tujuan Pembinaan Akhlak Anak
            Pembinaan akhlak pada masa kanak-kanak dilakukan agar anak terbiasa sejak kecil memiliki perilaku baik dan memiliki hubungan yang baik terhadap Allah SWT dan sesama makhluk yang ada disekitarnya. Hal tersebut seiring dengan dalam Barnawy Umary (1984:2), yang mengatakan “tujuan atau pembinaan akhlak secara umum meliputi:
1.      Supaya dapat terbiasa melakukan yang baik, indah, mulia, terpuji serta menghindari yang buruk, jelek, hina dan tercela. 
2.      Supaya perhubungan kita dengan Allah SWT dan dengan sesama makhluk selalu terpelihara dengan baik dan harmonis.”
Untuk itu, peran keluarga terutama orangtua  harus dapat membimbing  dan membina anak-anaknya dengan baik  sesuai dengan akhlak yang mulia.

Metode Pembinaan Akhlak Anak
Adapun metode atau cara yang dapat dilakukan orangtua dalam membina dan membentuk akhlak mulia pada anak sejak kecil sesuai dengan tuntunan oleh Rasulullah SAW yaitu:
1.      Menanamkan Tauhid dan Akidah yang Benar Kepada Anak
Hal yang tidak dapat dipungkiri bahwa tauhid merupakan landasan Islam. Apabila seseorang benar tauhidnya, dia akan mendapatkan keselamatan di dunia dan akhirat. Sebaliknya, tanpa tauhid, dia terjatuh ke dalam kesyirikan dan akan menemui kecelakaan di dunia serta kecelakaan di akhirat. Tauhid merupakan pusat segala usaha dan tujuan dalam setiap amal dan perbuatan. Oleh kerena itu, di dalam Al-Quran, Allah SWT. kisahkan nasihat Luqman kepada anaknya. Dalam surah Luqman: 13:

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ (13)

ArtinyaDan (Ingatlah) ketika Luqman Berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".

2.   Mengajari Anak untuk Melaksanakan Ibadah
Hendaknya sejak kecil putra-putri diajarkan beribadah dengan benar sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. Mulai dari tata cara bersuci, shalat, puasa, dan ibadah lainnya. Apabila mereka dapat menjaga ketertiban shalat, ajak pula untuk menghadiri shalat berjamaah di masjid. Dengan melatih anak sejak dini, mereka terbiasa dengan ibadah-ibadah tersebut saat dewasa. Dengan demikian, semua hal tersebut akan berguna untuk membiasakan anak taat kepada Allah SWT. 
3.   Mengajarkan Al-Quran, Hadis, Doa dan Zikir yang Ringan kepada Anak
Hal ini, dapat dimulai dengan mengajarkan Al-Quran surah Al-Fatihah dan surah-surah yang pendek serta doa tahiyat untuk shalat. Kemudiaan menyediakan guru khusus untuk mengajari tajwid, menghafal Al-Quran dan hadis. Begitu pula dengan doa dan zikir sehari-hari. Hendaknya anak mulai menghafalkannya seperti doa ketika makan, keluar masuk WC, dll.
4.    Mendidik Anak dengan Berbagai Adab dan Akhlak yang Mulia
Ajarilah anak dengan berbagai adab yang islami, seperti makan dengan tangan kanan, mengucapkan basmalah sebelum makan, menjaga kebersihan, mengucapkan salam, dll. Begitu pula dengan akhlak, tanamkan kepada anak akhlak-akhlak mulia,seperti berkata, dan bersikap jujur, berbakti kepada orang tua, dermawan, menghormati yang lebih tua, dan sayang kepada yang lebih muda, serta beragam akhlak lainnya.    
Kiranya tidak diragukan lagi bahwa keutamaan akhlak dan tingkah laku merupakan salah satu iman yang meresap ke dalam kehidupan keberagamaan anak. Ia akan terbiasa dengan akhlak yang mulia karena ia menyadari bahwa iman membentengi dirinya dari berbuat dosa dan kebiasaan jelek.
5.   Melarang Anak dari Berbagai Perbuatan yang Diharamkan
Hendaknya anak sedini mungkin diperingatkan dari beragam perbuatan yang tidak baik atau diharamkan, seperti merokok, judi, minuman khamar, mencuri, mengambil hak orang lain, dll. Ada banyak ayat dalam Al-Quran yang harus diperhatikan oleh setiap muslim. Satu dari sekian banyak isyarat itu adalah pokok-pokok pendidikan anak yang dilakukan oleh seorang ahli hikmah bernama Luqman. Allah SWT. mengabdikan keberhasilan Luqman dalam mendidik anak-anaknya di dalam Al-Quran surah Luqman ayat 13-16.
Artinya: ‘’Dan (Ingatlah) ketika Luqman Berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar". Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya Telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, Hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, Kemudian Hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan. (Luqman berkata): "Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui’’.
Dari ayat tersebut dijelaskan, ada tiga pokok pendidikan yang harus ditanamkan orang tua kepada anaknya:
a. Memiliki tauhid yang mantap
Memiliki tauhid atau iman yang mantap merupakan sesuatu yang penting dalam kehidupan seorang muslim. Dengan iman yang mantap, seseorang akan memiliki akhlak yang mulia sebagaimana Rasulullah SAW. bersabda, ‘’Mukmin yang sempurna imannya adalah yang bagus akhlaknya’’. (H.R. Tirmidzi).
b. Berbuat baik kepada Orang tua
Disamping iman yang mantap, yang harus ditanamkan oleh orang tua terhadap anaknya adalah berbuat baik kepada orang tua. Oleh karena itu, Rasulullah SAW. menekankan kepada para sahabatnya agar berbuat baik kepada orang tua. Ketika ada sahabat bertanya tentang siapa yang harus dicintai dalam hidup ini, Rasul menjawab,’’Allah dan Rasulnya’’. Lalu, sahabat itu bertanya lagi, ‘’siapa lagi ya Rasul’’. Rasul menjawab, ‘’ibumu’’, jawaban ini dikemukakan Rasul hingga tiga kali, setelah itu, ‘’bapakmu’’. Berkata ‘’ah’’ kepada orang tua juga dilarang karena hal itu sangat menyakitkan orang tua.
c.  Bertanggung jawab dalam berbuat
Pokok pendidikan anak yang ketiga yang ditanamkan Luqman kepada anaknya adalah rasa tanggung jawab. Seluruh yang dilakukan oleh manusia akan ada pertanggungjawabannya di akhirat atau ada balasannya, amal baik akan dibalas dengan kebaikan dan amal buruk akan dibalas dengan keburukan, (Dindin Jamaluddin, 2013:59-63).
Dengan menggunakan metode-metode yang telah dituntunkan Rasulullah di atas, maka akan membantu mempermudah peran keluarga terutama kedua orangtua dalam membina akhlak anak sejak kecil sehingga dapat mewujudkan akhlak mulia pada anak dan mencapai masa depan serta  kehidupan yang damai, bahagia di dunia dan di akhirat.

Penutup
Keluarga merupakan lingkungan dan wadah yang paling utama dan penting dalam pembinaan akhlak anak pada masa kanak-kanak. Terutama peranan kedua orang tua yang sangat penting dalam membantu pembinaan dan pembentukan akhlak mulia pada anak sejak usia kecil. Salah satu contoh peranan orang tua dalam pembinaan akhlak anak yaitu dengan memberikan contoh kepada anak dalam berakhlak mulia.
Adapun tujuan dari pembinaan akhlak pada anak sejak kecil yaitu agar anak memiliki sikap dan kebiasaan yang baik, indah, mulia, terpuji serta menghindari hal-hal atau perilaku yang buruk atau tercela. Selain itu, supaya anak memiliki hubungan dengan Allah SWT dan sesama makhluk yang baik dan harmonis sejak kecil sehingga dalam kehidupannya terarah, damai, bahagia di dunia dan di akhirat.
Dalam pembinaan akhlak anak ada beberapa metode atau cara yang dapat digunakan oleh orangtua sesuai dengan yang di tuntunkan oleh Rasulullah SAW yaitu dengan menanamkan, mengajarkan dan menerapkan kebiasaan-kebiasaan yang positif dalam agama Islam seperti: menanamkan tauhid dan akidah yang benar pada anak, mengajari anak untuk melaksanakan ibadah, mengajarkan Al-Quran, hadis, doa dan zikir yang ringan kepada anak, mendidik anak dengan berbagai adab dan akhlak yang mulia serta melarang anak dari perbuatan yang diharamkan.


Daftar Pustaka
Ahmadi, Abu.2004.Sosiologi Pendidikan.Jakarta: Asdy Mahasatya.
Ilyas, Yanuhar.1999.Kuliah Akhlak.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Jamaluddin, Dindidn.2013.Paradigma Pendidikan Anak dalam Islam.Bandung: Pustaka Setia.
Mansur.2009.Pendidikan Anak Usia Dini dalam Islam.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Nizar, Samsul dan Al-Rasyidin.2008.Filsafat Pendidikan Islam.Jakarta: Ciputat Pers.
Sauri, Sofyan.2006.Membangun Komunikasi dalam Keluarga (Kajian Nilai Religi, Sosial, dan Edukatif).Bandung: Genesindo.
Umari, Barnawy.1984.Materi Akhlak.Sala: Ramdhani.
Zuriah, Nurul.2008.Pendidikan Moral dan Budi Pekerti dalam Perspektif Perubahan. Jakarta: Bumi Aksara.
           

Kamis, 04 Januari 2018

Makalah Psikologi Pendidikan Teori Perkembangan Manusia



TEORI PERKEMBANGAN MANUSIA

Disususn Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Psikologi Pendidikan
Dosen Pengampu : M. Mufid, M. Pd. I


 
              Disusun Oleh:

              1.    Alivan Najmi                              (2021115055)
              2.    Sahurip                                       (2021113010)
              3.    Putri Utami                                (2021116011)
              4.    Diyah Mubarokah Ahadiyati     (2021116085)

Kelas E

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN/PAI
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
PEKALONGAN
2017


BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
     Perkembangan manusia memiliki pola umum yang dapat diterapkan pada manusia, meskipun terdapat perbedaan individual. Pola yang terjadi bahwa setiap individu tumbuh dari keadaan lemah menuju keadaan yang kuat dan kemudian kembali lemah. Hal tersebut merupakan kehendak Allah dan ditentukan melalui pembawaan dan lingkungan.
     Perubahan-perubahan yang terjadi pada manusia menimbulkan munculnya teori-teori perkembangan yaitu teori yang memfokuskan pada peubahan-perubahan dan perkembangan struktur jasmanai, perilaku dan fungsi mental manusia dalam berbagai tahap kehidupannya, mulai dari dari konsepsi hingga menjelang kematiannya. Memahami dan mempelajari teori-teori perkembangan sangatlah bermanfaat, tidak hanya berguna bagi orang tua dan guru dalam memberikan pelayanan dan pendidikan kepada anak sesuai dengan tahap perkembangannya, namun juga berguna dalam memahami diri kita sendiri karena teori perkembangan akan memberikan wawasan dan pemahaman tentang sejarah perjalanan hidup kita sendiri dari mulai bayi, masa kanak-kanak, remaja, dewasa ataupun usia lanjut.
     Makalah ini akan membahas tentang teori-teori perkembangan manusia. Mulai dari  bagaimana teori-teori perkembangan manusia, bagaimana perkembangan kognitif dan linguitik manusia serta bagaimana perkembangan pribadi dan sosialnya.

B.  Rumusan Masalah
1.    Bagaimanakah teori-teori perkembangan manusia?
2.    Bagaimankah perkembangan kognitif dan linguitik manusia?
3.    Bagaimanakah perkembangan pribadi dan sosial  manusia?
C.  Tujuan
1.    Untuk mengetahui tentang teori-teori perkembangan manusia
2.    Untuk mengetahui tentang perkembangan kognitif dan linguitik manusia
3.    Untuk mengetahui tentang perkembangan pribadi dan sosial pada manusia




BAB II
PEMBAHASAN

A.  Teori- Perkembangan Manusia
     Perkembangan secara khusus diartikan sebagai perubahan-perubahan yang bersifat kualitatif dan kuantitatif  yang menyangkut aspek-aspek mental psikologis manusia. Seperti misalnya perubahan-perubahan yang berkaitan dengan aspek pengetahuan, kemampuan, sifat sosial, moral, keyakinan agama, kecerdasan dan sebagainya, sehingga dengan perkembangan tersebut si anak akan semakin bertambah banyak pengetahuan dan kemampuannya juga semakin baik sifat sosial, moral, keyakinan agama dan sebagainya.[1]
     Para ahli berpendapat bahwa, terdapat 3 teori Perkembangan Manusia, diantaranya:
1.    Teori Nativisme
     Teori Nativisme tokohnya antara lain Arthur Schopenhauer. Pandangan dari teori Nativisme (nativus = pembawaan) menitik beratkan pada pandangan yang biologis di dalam manusia sejak dilahirkan, yaitu bahwa sifat-sifat bawaan itulah yang menentukan perkembangan manusia selanjutnya, sedangkan hal-hal yang di luar itu kurang berpengaruh dalam perkembangan manusia. Sifat-sifat dari keturunan tidak dapat diubah. Sedemikian ekstermnya.
     Scopenhauer (Jerman) antara lain menulis sebagai berikut: “Manusia itu tidak berubah-ubah. Akhlak manusia itu adalah tetap, seumur hidup tetap sebagai semula”. Dan lagi katanya “Sama dengan mengubah menjadi emas dan memengaruhi tabiat manusia dengan pendidikan”.
     Menurut pendirian Nativisme pembawaan keturunan itu mutlak. Dengan sendirinya itu bakal tumbuh, tak ada faedah dan manfaatnya mencoba memengaruhi pertumbuhan itu dengan macam-macam peraturan.[2]
2.    Teori Empirisme
     Teori ini bertolak belakang dengan teori sebelumnya (Nativisme), teori ini beranggapan bahwa perkembangan individu itu ditentukan oleh adanya pengalaman, pengaruh dari luar, termasuk pendidikan (ajar), sedangkan dasar sama sekali tidak memainkan perasaan.
     Aliran ini disebut juga Sosiologisme, karena sepenuhnya mementingkan atau menekankan pengaruh dari luar. Disamping itu, aliran ini disebut pula pedagogik-optimisme, karena pendidikan (ajar) dan segala pengaruh dari luar dianggap berkuasa atau mampu mengubah kekuatan-kekuatan yang dibawa sejak lahir. Dan dapat pula disebut Positivisme. Digambarkan juga oleh teori ini bahwa seolah-olah individu yang lahir itu bagaikan meja yang dilapisi dengan lilin putih (tabularasa). Karena anggapannya yang serupa inilah kemudian disebut dengan teori tabularasa. Tokoh utama dari teori empirisme adalah John Locke, seorang filosof dan psikolog Inggris, yang hidup pada tahun 1632-1704.[3]
3.    Teori Konvergensi
     Teori ini merupakan gabungan antara teori empirisme dan teori nativisme yang menggabungkan arti nereditas (pembawaan) dengan lingkungan sebagai faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan manusia. Tokoh utama konvergensi yang bernama Louis William Stern (1871-1938) menganggap bakat sebagai kemungkinan yang telah ada pada masing-masing individu dapat dikembangkan apabila ditunjang dengan pengaruh lingkungannya. Bakat yang sudah ada sebagai kemungkinan jika mendapat pengaruh lingkungan yang serasi, belum tentu dapat berkembang, kecuali jika bakat itu sudah matang. Oleh karena itu, yang perlu dipertimbangkan adalah kematangan. Dalam pendidikan, kematangan atau kondisi fisik akan memperoleh pengakuan sosial apabila individu yang bersangkutan mengusahakan social learning (belajar berinteraksi dengan orang lain atau kelompok serta menyesuaikan diri dengan nulai-nilai serta minat-minat kelompok).[4]

B.  Perkembangan Kognitif dan Linguitik
1.    Perkembangan Kognitif
       Perkembangan Kognitif adalah perkembangan kemampuan anak untuk mengeksplorasi lingkungan karena bertambah besarnya koordinasi dan pengendalian motorik, maka dunia kognitif anak berkembang pesat, makin kreatif, bebas, dan imajinatif.
       Seorang pakar terkemuka dalam psikologi kognitif dan psikologi anak, Jean Piaget mengklasifikasikan perkembangan kognitif anak menjadi 4 tahap, antara lain:
a.    Tahap Sensori Motor (usia 0-2 tahun)
     Piaget mengemukakan bahwa, dalam sebagian besar tahap sensorimotor, anak-anak berfokus pada apa yang mereka lakukan dan lihat pada saat itu; skema-skema mereka terutama tersusun berdasarkan perilaku dan persepsi. Meski demikian, kemampuan-kemampuan kognitif yang penting muncul selama periode ini, terutama saat anak mulai bereksperimen dengan lingkungannya.
     Piaget mengatakan, bahwa kemampuan berfikir yang sesungguhnya muncul pada usia 2 setengah tahun. Secara sepesifik , anak memperoleh kemampuan berfikir simbolik. Ketika anak telah menguasai pemikiran simbolik, mereka mulai bereksperimen dengan objek-objek dalam benaknya.
b.    Tahap Pra-Operational (usia 2-7 tahun)
     Pada tahap ini piaget mengemukakan bahwasanya ketrampilan bahasa anak akan berkembang pesat dan penguasaan kosa kata yang meningkat memungkinkan mereka mengekspresikan dan memikirkan beragam objek dan peristiwa. Pada tahap ini juga anak-anak dapat mengekspresikan pemikiran mereka dan juga menerima informasi yang sebelumnya tidak mungkin terjadi.
     Pada usia 4-5 tahun, anak-anak mulai menunjukan tanda-tanda awal pemikiran logis yang menyerupai pemikiran orang dewasa. Namun penalaran mereka masih berdasarkan prasangka dan intuisi belaka. Selain itu, mereka belum mampu menjelaskan mengapa kesimpulan mereka benar.
c.    Tahap Concert Operational (usia7-12 tahun)
     Pada tahap ini, piaget mengemukakan bahwa proses-proses berfikir anak menjadi terorganisasi kesistem proses-proses mental yang lebih besar yang memudahkan mereka berfikir lebih logis dari pada sebelumnya. Pada tahap ini penalaran anak mulai menyerupai penalaran orang dewasa, namun masih terbatas pada realitas konkret.
d.   Tahap Formal Operational (usia12- Dewasa)
     Pada tahap ini anak-anak dan remaja sudah mampu berfikir secara abstrak dan logis dengan menggunakan pola berfikir “kemungkinan”. Dengan kemampuan menarik kesimpulan, menafsirkan dan mengembangkan hipotesa. Pada tahap ini kondisi berfikir anak sudah dapat bekerja secara efektif dan sistematis.
     Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan kognitif pada diri seseorang yaitu:
a.    Perkembangan organik dan kematangan sistem saraf
b.    Latihan dan pengalaman
c.    Interaksi sosial[5]

2.    Perkembangan Linguistik
     Perkembangan Linguistik adalah perkembangan kemampuan bahasa pada anak, dimana seorang anak  harus menguasai banyak aspek bahasa, termasuk makna ribuan kata, seperangkat aturan yang rumit mengenai cara menggabungkan kata-kata dan aturan-aturan sosial dalam berinteraksi dengan orang lain sesuai budaya yang berlaku.
      Tahap-tahap perkembangan Linguistik, diantaranya:
1.    Masa Bayi (0-2 tahun)
     Perkembangan bahasa dimasa ini masih sederhana. Bayi mulai berceloteh pada usia 3-6 bulan, kemudian dilanjutkan mengucapkan kata pertama pada usia 10-13 bulan. Bayi mulai merangkai 2 kata bersama-sama pada usia 18-24 bulan.
2.    Masa Kanak-kanak Awal
     Pada usia 2-3 tahun dan berlanjut ketahun-tahun sekolah dasar anak mulai dapat menggabungkan 2-4 kata dan seterusnya menjadi kalimat yang sederhana.perbendaharaan  kata percakapan anak usia 6 tahun berkisar antara 8000-14000 kata.
3.    Masa Kanak-kanak Akhir
     Pada tahap ini anak semakin mampu untuk memahami dan menggunakan tata bahasa yang kompleks. Anak juga sudah belajar menggunakan bahasa yang saling berkaitan. Pengetahuan mengenai bahasa memungkinkan anak untuk berfikir mengenai bahasa itu, apakah kata itu dan mendefinisikannya. Mereka juga belajar mengenai bahasa mana yang pantas dan tidak pantas diucapkan dalam koridor norma masyarakat yang berlaku.
4.    Masa Remaja
     Remaja mengalami peningkatan kompleksitas dalam penggunaan kata-kata. Mereka mampu menggunakan perumpamaan dalam berkomunikasi. Dalam pergaulannya remaja seringkali menggunakan bahasa pergaulan atau slang.
     Adapun faktor-faktor  yang mempengaruhi perkembangan linguistik, yaitu:
a.    Kognisi (Proses mempengaruhi pengetahuan)
b.    Pola komunikasi dalam keluarga
c.    Jumlah anak atau jumlah Keluarga
d.   Posisi urutan kelahiran[6]

C.    Perkembangan Pribadi dan Sosial
1.    Perkembangan Pribadi
     Perkembangan pribadi yakni saat anak-anak dan remaja menguasai pola-pola perilaku yang khas dan mengembangkan pemahaman diri yang telah muncul semenjak masa bayi dan masa taman kanak-kanak.
     Ada beberapa teori yang membahas mengenai perkembangan kepribadian, yaitu:
a.    Teori Tabularasa
     Pada tahun 1960, Jhon Locke mengemukakan teori tabularasa dalam bukunya yang berjudul “An Essay Concerning Human Understanding”. Menurut teori ini, manusia yang baru lahir seperti batu tulis yang bersih dan akan menjadi seperti apa kepribadian seseorang ditentukan oleh pengalaman yang didapatkannya. Teori ini mengandaikan bahwa semua individu pada waktu lahir mempunyai potensi kepribadian yang sama.
b.    Teori Cermin Diri
     Charles H. Cooley mengemukakan bahwasannya teori ini merupakan gambaran bahwa seseorang hanya bisa berkembang dengan bantuan orang lain.
c.    Teori Diri Anti Sosial
     Sigmund Freud mengemukakan bahwa diri manusia mempunyai tiga bagian yakni ID, SUPER EGO, dan EGO.
d.   Teori Ralph dan Conton
     Teori ini mengatakan bahwa setiap kebudayaan menekankan serangkaian pengaruh umum terhadap individu yang tumbuh dibawah kebudayaan itu.

e.    Teori Subcultural Soerdjono Soekamto
     Teori ini mencoba melihat kaitan antara kebudayaan dan kepribadian dalam ruang lingkup yang lebih sempit, yaitu kebudayaan khusus (subcultural).

Tahap-tahap perkembangan kepribadian diantaranya, yaitu:
a.    Masa Bayi
                 Pada tahap ini, perilaku bayi didasari oleh dorongan mempercayai atau tidak mempercayai orang-orang disekitarnya. Dia sepenuhnya mempercayai orangtuanya, tetapi orang yang dianggap asing dia tidak akan mempercayainya. Oleh karena itu, kadang-kadang bayi menangis bila dipangku oleh orang yang tidak dikenalnya. Ia bukan saja tidak percaya kepada orang-orang yang asing tetapi juga kepada benda asing, tempat asing, suara asing, perlakuan asing dan sebagainya. Kalau menghadapi situasi-situasi tersebut sering kali bayi menangis.
b.    Masa Kanak-kanak Awal
                    Pada masa ini sampai batas-batas tertentu anak sudah bisa berdiri sendiri dalam arti duduk, berdiri, berjalan, bermain, minum dari botol sendiri tanpa ditolong oleh orang tuanya, tetapi dipihak lain dia telah mulai memiliki rasa malu dan keraguan dalam berbuat, sehingga sering kali meminta pertolongan atau persetujuan dari orang tuanya.
c.    Masa Pra Sekolah
                      Pada masa ini, anak telah memiliki beberapa kecakapan, dengan kecakapan-kecakapan tersebut dia terdorong melakukan beberapa kegiatan, tetapi karena kemampuan anak tersebut masih terbatas adakalanya dia mengalami kegagalan. Kegagalan-kegagalan tersebut menyebabkan dia memiliki perasaan bersalah, dan untuk sementara waktu dia tidak mau berinisiatif atau berbuat.
d.   Masa Sekolah
          Pada masa ini, anak sangat aktif mempelajari apa saja yang ada dilingkungannya. Dorongan untuk mengetahui dan berbuat terhadap lingkungannya sangat besar, tetapi dipihak lain karena keterbatasan-keterbatasan kemampuan dan pengetahuannya kadang-kadang dia menghadapi kesukaran, hambatan bahkan kegagalan. Hambatan dan kegagalan ini dapat menyebabkan anak merasa rendah diri.
e.    Masa Remaja
          Pada masa ini, kemampuan dan kecakapan-kecakapan yang dimiliki anak berusaha untuk membentuk dan memperlihatkan identitas diri, ciri-ciri yang khas pada dirinya. Dorongan membentuk dan memperlihatkan identitas diri ini, pada remaja sering sekali sangat ekstrim dan berlebihan, sehingga tidak jarang dilihat oleh lingkungannya sebagai penyimpangan atau kenakalan.
f.       Masa Dewasa Awal
          Pada masa ini, anak sudah mulai selektif dalam membina hubungan yang intim hanya dengan orang-orang tertentu yang sepaham. Jadi pada tahap ini timbul dorongan untuk membentuk hubungan yang intim dengan orang-orang tertentu, dan kurang akrab atau renggang dengan yang lainnya.
g.    Masa Dewasa
          Pada masa ini, individu telah mencapai puncak dari perkembangan segala sesuatunya. Pengetahuannya cukup luas, kecakapannya cukup banyak, sehingga perkembangan individu sangat pesat. Meskipun pengetahuan dan kecakapan individu sangat luas, tetapi dia tidak mungkin dapat menguasai segala macam ilmu dan kecakapan, sehingga tetap pengetahuan dan kecakapannya terbatas. Untuk mengerjakan atau mencapai hal-hal tertentu ia mengalami hambatan.
h.    Masa Hari Tua
          Pada masa ini, individu telah mencapai kesatuan atau integritas pribadi, semua yang telah dikaji dan didalaminya telah menjadi milik pribadinya. Pribadi yang telah mapan disatu pihak digoyahkan oleh usianya yang mendekati akhir. Mungkin ia masih memiliki beberapa keinginan atau tujuan yang akan dicapainya tetapi karena faktor usia, hal itu sedikit sekali kemungkinan untuk dapat dicapai. Dalam situasi ini individu mengalami putus asa.[7]

2.      Perkembangan sosial
  Perkembangan sosial yakni saat anak-anak muda mulai memperoleh pemahaman yang semakin baik mengenai  sesama manusia, menjalin hubungan yang produktif dengan orang dewasa dan teman sebaya, dan secara berangsur-angsur menginternalisasikan pedoman-pedoman berperilaku sebagaimana ditetapkan oleh masyarakat.
     Menurut Hurlock, perkembangan sosial berarti perolehan kemampuan berperilaku yang sesuai dengan tuntutan sosial. Menjadi orang yang mampu bermasyarakat memerlukan tiga proses. Diantaranya adalah belajar berperilaku yang dapat diterima secara sosial, memainkan peran sosial yang dapat diterima, dan perkembangan sifat sosial.[8]
Setiap anak mempunyai tahapan perkembangan dalam segala aspek perkembangannya, begitupula pada bidang sosialnya. Perkembangan tersebut didasarkan pada tahapan usia dari masing-masing anak. Tingkatan perkembangan sosial anak terbagi menjadi 4 tingkatan sebagai berikut,
a.    Tingkatan pertama: pada tahap ini anak mulai mengadakan reaksi positif terhadap orang lain, antara lain ia tertawa karena mendengar suara orang lain.
b.    Tingkatan kedua: adanya rasa bangga dan segan yang terpancar dalam gerakan dan mimiknya, jika anak tersebut dapat mengulangi yang lainnya. Contoh: anak yang berebut benda atau mainan, jika menang dia akan kegirangan dalam gerak dan mimik. Tingkatan ini biasanya terjadi pada usia 2 tahun ke atas.
c.    Tingkatan ketiga: jika anak telah lebih dari umur 2 tahun, mulai timbul rasa simpati (rasa tidak setuju) kepada orang lain, baik yang sudah dikenalnya atau belum.
d.   Tingkatan keempat: pada masa akhir tahun kedua, anak setelah menyadari akan pergaulannya dengan anggota keluarga, anak timbul keinginan untuk ikut campur dalam gerak dan lakunya.
e.    Tingkatan kelima: pada usia 4 tahun, anak semakin senang bergaul dengan anak lain terutama teman yang usianya sebaya.
f.  Tingkatan keenam: pada usia 5-6 tahun ketika memasuki usia sekolah, anak lebih mudah diajak bermain dalam suatu kelompok. Ia juga lebih memilih teman bermainnya, entah tetangga atau teman sebayanya yang dilakukan dirumah.[9]





BAB III
KESIMPULAN


Kesimpulan
     Perkembangan adalah perubahan-perubahan yang bersifat kualitatif dan kuantitatif  yang menyangkut aspek-aspek mental psikologis manusia. Para ahli berpendapat bahwa ada tiga teori perkembangan manusia yaitu teori Nativisme, teori Empirisme dan teori Konvergensi.
     Perkembangan Kognitif adalah perkembangan kemampuan anak untuk mengeksplorasi lingkungan karena bertambah besarnya koordinasi dan pengendalian motorik. Jean Piaget mengklasifikasikan perkembangan kognitif anak menjadi 4 tahap, antara lain: Tahap sensori motor (usia 0-2 tahun), Tahap pra-operational (usia 2-7 tahun), Tahap concert operational (usia7-12 tahun), dan Tahap formal operational (usia12- Dewasa).
     Perkembangan Linguistik adalah perkembangan kemampuan bahasa pada anak, dimana seorang anak  harus menguasai banyak aspek bahasa. Adapun Tahap-tahap perkembangan Linguistik yaitu masa bayi, masa kanak-kanak awal, masa kanak-kanak akhir, dan masa remaja.
     Perkembangan pribadi yakni saat anak-anak dan remaja menguasai pola-pola perilaku yang khas dan mengembangkan pemahaman diri yang telah muncul semenjak masa bayi dan masa taman kanak-kanak. Ada beberapa teori yang membahas mengenai perkembangan kepribadian, yaitu teori tabularasa, teori cermin diri, teori diri anti sosial, Teori Ralph dan Conton, dan Teori Subcultural Soerdjono Soekamto.
      Perkembangan sosial adalah perolehan kemampuan berperilaku yang sesuai dengan tuntutan sosial. Terdapat tingkatan-tingkatan dalam perkembangan sosial. Perkembangan tersebut didasarkan pada tahapan usia dari masing-masing anak.


DAFTAR PUSTAKA



Abror, Abd. Rachman.1993. Psikologi Pendidikan.Yogyakarta: PT. Tiara Wacana Yogya.
Agus, Sujanto.1997. Psikologi Kepribadian.Jakarta: Aksara Baru.
Baharuddin.2009. PENDIDIKAN DAN PSIKOLOGI PERKEMBANGAN.Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Fudyartana, Ki.2011.Psikologi Umum.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Hurlock, Elizabeth B.1995.Perkembangan Anak Jilid 1.Jakarta: Erlangga.
Ormrod, Jeanne Ellis.2008. Psikologi Pendidikan Membantu Siswa Tumbuh dan Berkembang.Jakarta: Erlangga.
Sabri, H.M. Alisuf.1996. Psikologi Pendidikan.Jakarta: Pedoman Ilmu jaya.
Sholeh, Abu Ahmadi dan Munawar.2005. Psikologi Perkembangan.Jakarta: PT. Rineka Cipta.

















[1]  Drs. H. M. Alisuf  Sabri, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1996), hlm. 11.
[2]  Ki Fudyartana,Psikologi Umum.(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011), Hlm. 61-62.

[3]  Abd. Rachman abror, Psikologi Pendidikan, (Yogyakarta: PT. Tiara Wacana Yogya, 1993), hlm. 24-25.
[4]  Baharuddin, PENDIDIKAN DAN PSIKOLOGI PERKEMBANGAN, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2009), hlm. 73.
[5]  Jeanne Ellis Ormrod, Psikologi Pendidikan Membantu Siswa Tumbuh dan Berkembang, (Jakarta: Erlangga, 2008), hlm. 43-47.
[7] Sujanto Agus, Psikologi Kepribadian,(Jakarta:Aksara Baru, 1997), hlm.15-19.
[8]  Elizabeth B. Hurlock, Perkembangan Anak Jilid 1, (Jakarta: Penerbit Erlangga, 1995), hlm.250.
[9]  Abu Ahmadi dan Munawar Sholeh, Psikologi Perkembangan, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2005), hlm. 102-103.

Keluarga sebagai Tempat Pembinaan Akhlak pada Masa Kanak-kanak

KELUARGA SEBAGAI TEMPAT PEMBINAAN AKHLAK PADA MASA KANAK-KANAK Putri Utami (2021116011) Abstrak Penulisan ini bertujuan unt...