TEORI
PERKEMBANGAN MANUSIA
Disususn Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Psikologi Pendidikan
Dosen Pengampu : M.
Mufid, M. Pd. I
Disusun
Oleh:
1.
Alivan
Najmi (2021115055)
2.
Sahurip (2021113010)
3.
Putri
Utami (2021116011)
4.
Diyah
Mubarokah Ahadiyati (2021116085)
Kelas E
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN/PAI
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
PEKALONGAN
2017
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Perkembangan manusia memiliki pola umum
yang dapat diterapkan pada manusia, meskipun terdapat perbedaan individual.
Pola yang terjadi bahwa setiap individu tumbuh dari keadaan lemah menuju
keadaan yang kuat dan kemudian kembali lemah. Hal tersebut merupakan kehendak
Allah dan ditentukan melalui pembawaan dan lingkungan.
Perubahan-perubahan yang terjadi pada
manusia menimbulkan munculnya teori-teori perkembangan yaitu teori yang
memfokuskan pada peubahan-perubahan dan perkembangan struktur jasmanai,
perilaku dan fungsi mental manusia dalam berbagai tahap kehidupannya, mulai
dari dari konsepsi hingga menjelang kematiannya. Memahami dan mempelajari
teori-teori perkembangan sangatlah bermanfaat, tidak hanya berguna bagi orang
tua dan guru dalam memberikan pelayanan dan pendidikan kepada anak sesuai
dengan tahap perkembangannya, namun juga berguna dalam memahami diri kita
sendiri karena teori perkembangan akan memberikan wawasan dan pemahaman tentang
sejarah perjalanan hidup kita sendiri dari mulai bayi, masa kanak-kanak,
remaja, dewasa ataupun usia lanjut.
Makalah ini akan membahas tentang
teori-teori perkembangan manusia. Mulai dari bagaimana teori-teori perkembangan manusia,
bagaimana perkembangan kognitif dan linguitik manusia serta bagaimana
perkembangan pribadi dan sosialnya.
B. Rumusan Masalah
1.
Bagaimanakah
teori-teori perkembangan manusia?
2.
Bagaimankah
perkembangan kognitif dan linguitik manusia?
3.
Bagaimanakah
perkembangan pribadi dan sosial manusia?
C.
Tujuan
1.
Untuk
mengetahui tentang teori-teori perkembangan manusia
2.
Untuk
mengetahui tentang perkembangan kognitif dan linguitik manusia
3.
Untuk
mengetahui tentang perkembangan pribadi dan sosial pada manusia
BAB II
PEMBAHASAN
A. Teori- Perkembangan Manusia
Perkembangan secara khusus diartikan
sebagai perubahan-perubahan yang bersifat kualitatif dan kuantitatif yang menyangkut aspek-aspek mental psikologis
manusia. Seperti misalnya perubahan-perubahan yang berkaitan dengan aspek
pengetahuan, kemampuan, sifat sosial, moral, keyakinan agama, kecerdasan dan
sebagainya, sehingga dengan perkembangan tersebut si anak akan semakin
bertambah banyak pengetahuan dan kemampuannya juga semakin baik sifat sosial,
moral, keyakinan agama dan sebagainya.[1]
Para ahli berpendapat bahwa, terdapat 3
teori Perkembangan Manusia, diantaranya:
1.
Teori
Nativisme
Teori Nativisme tokohnya antara lain Arthur
Schopenhauer. Pandangan dari teori Nativisme (nativus = pembawaan) menitik
beratkan pada pandangan yang biologis di dalam manusia sejak dilahirkan, yaitu
bahwa sifat-sifat bawaan itulah yang menentukan perkembangan manusia
selanjutnya, sedangkan hal-hal yang di luar itu kurang berpengaruh dalam
perkembangan manusia. Sifat-sifat dari keturunan tidak dapat diubah. Sedemikian
ekstermnya.
Scopenhauer (Jerman) antara lain menulis
sebagai berikut: “Manusia itu tidak berubah-ubah. Akhlak manusia itu adalah
tetap, seumur hidup tetap sebagai semula”. Dan lagi katanya “Sama dengan
mengubah menjadi emas dan memengaruhi tabiat manusia dengan pendidikan”.
Menurut pendirian Nativisme pembawaan
keturunan itu mutlak. Dengan sendirinya itu bakal tumbuh, tak ada faedah dan
manfaatnya mencoba memengaruhi pertumbuhan itu dengan macam-macam peraturan.[2]
2.
Teori
Empirisme
Teori ini bertolak belakang dengan teori
sebelumnya (Nativisme), teori ini beranggapan bahwa perkembangan individu itu
ditentukan oleh adanya pengalaman, pengaruh dari luar, termasuk pendidikan
(ajar), sedangkan dasar sama sekali tidak memainkan perasaan.
Aliran ini disebut juga Sosiologisme,
karena sepenuhnya mementingkan atau menekankan pengaruh dari luar. Disamping
itu, aliran ini disebut pula pedagogik-optimisme, karena pendidikan
(ajar) dan segala pengaruh dari luar dianggap berkuasa atau mampu mengubah
kekuatan-kekuatan yang dibawa sejak lahir. Dan dapat pula disebut Positivisme.
Digambarkan juga oleh teori ini bahwa seolah-olah individu yang lahir itu
bagaikan meja yang dilapisi dengan lilin putih (tabularasa). Karena anggapannya
yang serupa inilah kemudian disebut dengan teori tabularasa. Tokoh utama
dari teori empirisme adalah John Locke, seorang filosof dan psikolog Inggris,
yang hidup pada tahun 1632-1704.[3]
3.
Teori
Konvergensi
Teori ini merupakan gabungan antara teori
empirisme dan teori nativisme yang menggabungkan arti nereditas (pembawaan)
dengan lingkungan sebagai faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pertumbuhan
dan perkembangan manusia. Tokoh utama konvergensi yang bernama Louis William
Stern (1871-1938) menganggap bakat sebagai kemungkinan yang telah ada pada
masing-masing individu dapat dikembangkan apabila ditunjang dengan pengaruh
lingkungannya. Bakat yang sudah ada sebagai kemungkinan jika mendapat pengaruh
lingkungan yang serasi, belum tentu dapat berkembang, kecuali jika bakat itu
sudah matang. Oleh karena itu, yang perlu dipertimbangkan adalah kematangan.
Dalam pendidikan, kematangan atau kondisi fisik akan memperoleh pengakuan
sosial apabila individu yang bersangkutan mengusahakan social learning (belajar
berinteraksi dengan orang lain atau kelompok serta menyesuaikan diri dengan
nulai-nilai serta minat-minat kelompok).[4]
B. Perkembangan Kognitif dan Linguitik
1.
Perkembangan Kognitif
Perkembangan Kognitif
adalah perkembangan kemampuan anak untuk mengeksplorasi lingkungan karena
bertambah besarnya koordinasi dan pengendalian motorik, maka dunia kognitif
anak berkembang pesat, makin kreatif, bebas, dan imajinatif.
Seorang pakar terkemuka
dalam psikologi kognitif dan psikologi anak, Jean Piaget mengklasifikasikan
perkembangan kognitif anak menjadi 4 tahap, antara lain:
a.
Tahap
Sensori Motor (usia 0-2 tahun)
Piaget mengemukakan
bahwa, dalam sebagian besar tahap sensorimotor, anak-anak berfokus pada apa
yang mereka lakukan dan lihat pada saat itu; skema-skema mereka terutama
tersusun berdasarkan perilaku dan persepsi. Meski demikian, kemampuan-kemampuan
kognitif yang penting muncul selama periode ini, terutama saat anak mulai
bereksperimen dengan lingkungannya.
Piaget mengatakan, bahwa
kemampuan berfikir yang sesungguhnya muncul pada usia 2 setengah tahun. Secara
sepesifik , anak memperoleh kemampuan berfikir simbolik. Ketika anak telah
menguasai pemikiran simbolik, mereka mulai bereksperimen dengan objek-objek
dalam benaknya.
b.
Tahap
Pra-Operational (usia 2-7 tahun)
Pada tahap ini piaget
mengemukakan bahwasanya ketrampilan bahasa anak akan berkembang pesat dan
penguasaan kosa kata yang meningkat memungkinkan mereka mengekspresikan dan
memikirkan beragam objek dan peristiwa. Pada tahap ini juga anak-anak dapat
mengekspresikan pemikiran mereka dan juga menerima informasi yang sebelumnya
tidak mungkin terjadi.
Pada usia 4-5 tahun,
anak-anak mulai menunjukan tanda-tanda awal pemikiran logis yang menyerupai
pemikiran orang dewasa. Namun penalaran mereka masih berdasarkan prasangka dan
intuisi belaka. Selain itu, mereka belum mampu menjelaskan mengapa kesimpulan
mereka benar.
c.
Tahap
Concert Operational (usia7-12 tahun)
Pada tahap ini, piaget
mengemukakan bahwa proses-proses berfikir anak menjadi terorganisasi kesistem
proses-proses mental yang lebih besar yang memudahkan mereka berfikir lebih
logis dari pada sebelumnya. Pada tahap ini penalaran anak mulai menyerupai
penalaran orang dewasa, namun masih terbatas pada realitas konkret.
d.
Tahap
Formal Operational (usia12- Dewasa)
Pada tahap ini anak-anak
dan remaja sudah mampu berfikir secara abstrak dan logis dengan menggunakan
pola berfikir “kemungkinan”. Dengan kemampuan menarik kesimpulan, menafsirkan
dan mengembangkan hipotesa. Pada tahap ini kondisi berfikir anak sudah dapat
bekerja secara efektif dan sistematis.
Adapun faktor-faktor yang
mempengaruhi perkembangan kognitif pada diri seseorang yaitu:
a.
Perkembangan
organik dan kematangan sistem saraf
b.
Latihan
dan pengalaman
c.
Interaksi
sosial[5]
2.
Perkembangan Linguistik
Perkembangan Linguistik
adalah perkembangan kemampuan bahasa pada anak, dimana seorang anak harus menguasai banyak aspek bahasa, termasuk
makna ribuan kata, seperangkat aturan yang rumit mengenai cara menggabungkan
kata-kata dan aturan-aturan sosial dalam berinteraksi dengan orang lain sesuai
budaya yang berlaku.
Tahap-tahap perkembangan Linguistik,
diantaranya:
1.
Masa
Bayi (0-2 tahun)
Perkembangan bahasa
dimasa ini masih sederhana. Bayi mulai berceloteh pada usia 3-6 bulan, kemudian
dilanjutkan mengucapkan kata pertama pada usia 10-13 bulan. Bayi mulai
merangkai 2 kata bersama-sama pada usia 18-24 bulan.
2.
Masa
Kanak-kanak Awal
Pada usia 2-3 tahun dan
berlanjut ketahun-tahun sekolah dasar anak mulai dapat menggabungkan 2-4 kata
dan seterusnya menjadi kalimat yang sederhana.perbendaharaan kata percakapan anak usia 6 tahun berkisar
antara 8000-14000 kata.
3.
Masa
Kanak-kanak Akhir
Pada tahap ini anak
semakin mampu untuk memahami dan menggunakan tata bahasa yang kompleks. Anak
juga sudah belajar menggunakan bahasa yang saling berkaitan. Pengetahuan
mengenai bahasa memungkinkan anak untuk berfikir mengenai bahasa itu, apakah
kata itu dan mendefinisikannya. Mereka juga belajar mengenai bahasa mana yang
pantas dan tidak pantas diucapkan dalam koridor norma masyarakat yang berlaku.
4.
Masa
Remaja
Remaja mengalami
peningkatan kompleksitas dalam penggunaan kata-kata. Mereka mampu menggunakan
perumpamaan dalam berkomunikasi. Dalam pergaulannya remaja seringkali menggunakan
bahasa pergaulan atau slang.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan linguistik,
yaitu:
a.
Kognisi
(Proses mempengaruhi pengetahuan)
b.
Pola
komunikasi dalam keluarga
c.
Jumlah
anak atau jumlah Keluarga
d.
Posisi
urutan kelahiran[6]
C.
Perkembangan Pribadi dan Sosial
1.
Perkembangan Pribadi
Perkembangan pribadi
yakni saat anak-anak dan remaja menguasai pola-pola perilaku yang khas dan
mengembangkan pemahaman diri yang telah muncul semenjak masa bayi dan masa
taman kanak-kanak.
Ada beberapa teori yang
membahas mengenai perkembangan kepribadian, yaitu:
a.
Teori
Tabularasa
Pada tahun 1960, Jhon
Locke mengemukakan teori tabularasa dalam bukunya yang berjudul “An Essay
Concerning Human Understanding”. Menurut teori ini, manusia yang baru lahir
seperti batu tulis yang bersih dan akan menjadi seperti apa kepribadian
seseorang ditentukan oleh pengalaman yang didapatkannya. Teori ini mengandaikan
bahwa semua individu pada waktu lahir mempunyai potensi kepribadian yang sama.
b.
Teori
Cermin Diri
Charles H. Cooley
mengemukakan bahwasannya teori ini merupakan gambaran bahwa seseorang hanya
bisa berkembang dengan bantuan orang lain.
c.
Teori
Diri Anti Sosial
Sigmund Freud
mengemukakan bahwa diri manusia mempunyai tiga bagian yakni ID, SUPER EGO, dan
EGO.
d.
Teori
Ralph dan Conton
Teori ini mengatakan
bahwa setiap kebudayaan menekankan serangkaian pengaruh umum terhadap individu
yang tumbuh dibawah kebudayaan itu.
e.
Teori
Subcultural Soerdjono Soekamto
Teori ini mencoba melihat
kaitan antara kebudayaan dan kepribadian dalam ruang lingkup yang lebih sempit,
yaitu kebudayaan khusus (subcultural).
Tahap-tahap perkembangan kepribadian diantaranya, yaitu:
a.
Masa
Bayi
Pada tahap ini, perilaku bayi didasari oleh dorongan
mempercayai atau tidak mempercayai orang-orang disekitarnya. Dia sepenuhnya
mempercayai orangtuanya, tetapi orang yang dianggap asing dia tidak akan
mempercayainya. Oleh karena itu, kadang-kadang bayi menangis bila dipangku oleh
orang yang tidak dikenalnya. Ia bukan saja tidak percaya kepada orang-orang
yang asing tetapi juga kepada benda asing, tempat asing, suara asing, perlakuan
asing dan sebagainya. Kalau menghadapi situasi-situasi tersebut sering kali
bayi menangis.
b.
Masa
Kanak-kanak Awal
Pada masa ini sampai batas-batas
tertentu anak sudah bisa berdiri sendiri dalam arti duduk, berdiri, berjalan,
bermain, minum dari botol sendiri tanpa ditolong oleh orang tuanya, tetapi
dipihak lain dia telah mulai memiliki rasa malu dan keraguan dalam berbuat,
sehingga sering kali meminta pertolongan atau persetujuan dari orang tuanya.
c.
Masa
Pra Sekolah
Pada
masa ini, anak telah memiliki beberapa kecakapan, dengan kecakapan-kecakapan
tersebut dia terdorong melakukan beberapa kegiatan, tetapi karena kemampuan
anak tersebut masih terbatas adakalanya dia mengalami kegagalan.
Kegagalan-kegagalan tersebut menyebabkan dia memiliki perasaan bersalah, dan
untuk sementara waktu dia tidak mau berinisiatif atau berbuat.
d.
Masa
Sekolah
Pada masa ini, anak
sangat aktif mempelajari apa saja yang ada dilingkungannya. Dorongan untuk
mengetahui dan berbuat terhadap lingkungannya sangat besar, tetapi dipihak lain
karena keterbatasan-keterbatasan kemampuan dan pengetahuannya kadang-kadang dia
menghadapi kesukaran, hambatan bahkan kegagalan. Hambatan dan kegagalan ini
dapat menyebabkan anak merasa rendah diri.
e.
Masa
Remaja
Pada masa ini,
kemampuan dan kecakapan-kecakapan yang dimiliki anak berusaha untuk membentuk
dan memperlihatkan identitas diri, ciri-ciri yang khas pada dirinya. Dorongan
membentuk dan memperlihatkan identitas diri ini, pada remaja sering sekali
sangat ekstrim dan berlebihan, sehingga tidak jarang dilihat oleh lingkungannya
sebagai penyimpangan atau kenakalan.
f.
Masa Dewasa Awal
Pada masa ini, anak
sudah mulai selektif dalam membina hubungan yang intim hanya dengan orang-orang
tertentu yang sepaham. Jadi pada tahap ini timbul dorongan untuk membentuk
hubungan yang intim dengan orang-orang tertentu, dan kurang akrab atau renggang
dengan yang lainnya.
g.
Masa
Dewasa
Pada masa ini,
individu telah mencapai puncak dari perkembangan segala sesuatunya. Pengetahuannya
cukup luas, kecakapannya cukup banyak, sehingga perkembangan individu sangat
pesat. Meskipun pengetahuan dan kecakapan individu sangat luas, tetapi dia
tidak mungkin dapat menguasai segala macam ilmu dan kecakapan, sehingga tetap
pengetahuan dan kecakapannya terbatas. Untuk mengerjakan atau mencapai hal-hal
tertentu ia mengalami hambatan.
h.
Masa
Hari Tua
Pada masa ini,
individu telah mencapai kesatuan atau integritas pribadi, semua yang telah
dikaji dan didalaminya telah menjadi milik pribadinya. Pribadi yang telah mapan
disatu pihak digoyahkan oleh usianya yang mendekati akhir. Mungkin ia masih
memiliki beberapa keinginan atau tujuan yang akan dicapainya tetapi karena
faktor usia, hal itu sedikit sekali kemungkinan untuk dapat dicapai. Dalam situasi
ini individu mengalami putus asa.[7]
2.
Perkembangan sosial
Perkembangan sosial yakni
saat anak-anak muda mulai memperoleh pemahaman yang semakin baik mengenai sesama manusia, menjalin hubungan yang
produktif dengan orang dewasa dan teman sebaya, dan secara berangsur-angsur
menginternalisasikan pedoman-pedoman berperilaku sebagaimana ditetapkan oleh
masyarakat.
Menurut Hurlock,
perkembangan sosial berarti perolehan kemampuan berperilaku yang sesuai dengan
tuntutan sosial. Menjadi orang yang mampu bermasyarakat memerlukan tiga proses.
Diantaranya adalah belajar berperilaku yang dapat diterima secara sosial,
memainkan peran sosial yang dapat diterima, dan perkembangan sifat sosial.[8]
Setiap anak mempunyai tahapan perkembangan dalam segala aspek
perkembangannya, begitupula pada bidang sosialnya. Perkembangan tersebut
didasarkan pada tahapan usia dari masing-masing anak. Tingkatan perkembangan
sosial anak terbagi menjadi 4 tingkatan sebagai berikut,
a.
Tingkatan
pertama: pada tahap ini anak mulai mengadakan reaksi positif terhadap orang
lain, antara lain ia tertawa karena mendengar suara orang lain.
b.
Tingkatan
kedua: adanya rasa bangga dan segan yang terpancar dalam gerakan dan mimiknya,
jika anak tersebut dapat mengulangi yang lainnya. Contoh: anak yang berebut
benda atau mainan, jika menang dia akan kegirangan dalam gerak dan mimik. Tingkatan
ini biasanya terjadi pada usia 2 tahun ke atas.
c.
Tingkatan
ketiga: jika anak telah lebih dari umur 2 tahun, mulai timbul rasa simpati
(rasa tidak setuju) kepada orang lain, baik yang sudah dikenalnya atau belum.
d.
Tingkatan
keempat: pada masa akhir tahun kedua, anak setelah menyadari akan pergaulannya
dengan anggota keluarga, anak timbul keinginan untuk ikut campur dalam gerak
dan lakunya.
e.
Tingkatan
kelima: pada usia 4 tahun, anak semakin senang bergaul dengan anak lain
terutama teman yang usianya sebaya.
f. Tingkatan keenam: pada usia
5-6 tahun ketika memasuki usia sekolah, anak lebih mudah diajak bermain dalam
suatu kelompok. Ia juga lebih memilih teman bermainnya, entah tetangga atau
teman sebayanya yang dilakukan dirumah.[9]
BAB
III
KESIMPULAN
Kesimpulan
Perkembangan adalah perubahan-perubahan
yang bersifat kualitatif dan kuantitatif
yang menyangkut aspek-aspek mental psikologis manusia. Para ahli
berpendapat bahwa ada tiga teori perkembangan manusia yaitu teori Nativisme,
teori Empirisme dan teori Konvergensi.
Perkembangan Kognitif
adalah perkembangan kemampuan anak untuk mengeksplorasi lingkungan karena
bertambah besarnya koordinasi dan pengendalian motorik. Jean Piaget
mengklasifikasikan perkembangan kognitif anak menjadi 4 tahap, antara lain:
Tahap sensori motor (usia 0-2 tahun), Tahap pra-operational (usia 2-7 tahun),
Tahap concert operational (usia7-12 tahun), dan Tahap formal operational
(usia12- Dewasa).
Perkembangan Linguistik
adalah perkembangan kemampuan bahasa pada anak, dimana seorang anak harus menguasai banyak aspek bahasa. Adapun Tahap-tahap
perkembangan Linguistik yaitu masa bayi, masa kanak-kanak awal, masa
kanak-kanak akhir, dan masa remaja.
Perkembangan pribadi
yakni saat anak-anak dan remaja menguasai pola-pola perilaku yang khas dan
mengembangkan pemahaman diri yang telah muncul semenjak masa bayi dan masa
taman kanak-kanak. Ada beberapa teori yang membahas mengenai perkembangan
kepribadian, yaitu teori tabularasa, teori cermin diri, teori diri anti sosial,
Teori Ralph dan Conton, dan Teori Subcultural Soerdjono Soekamto.
Perkembangan sosial adalah perolehan kemampuan
berperilaku yang sesuai dengan tuntutan sosial. Terdapat tingkatan-tingkatan
dalam perkembangan sosial. Perkembangan tersebut didasarkan pada tahapan usia
dari masing-masing anak.
DAFTAR PUSTAKA
Abror, Abd. Rachman.1993. Psikologi Pendidikan.Yogyakarta:
PT. Tiara Wacana Yogya.
Agus, Sujanto.1997. Psikologi Kepribadian.Jakarta:
Aksara Baru.
Baharuddin.2009. PENDIDIKAN DAN PSIKOLOGI PERKEMBANGAN.Yogyakarta:
Ar-Ruzz Media.
Fudyartana, Ki.2011.Psikologi Umum.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Hurlock,
Elizabeth B.1995.Perkembangan
Anak Jilid 1.Jakarta: Erlangga.
Ormrod, Jeanne Ellis.2008. Psikologi Pendidikan
Membantu Siswa Tumbuh dan Berkembang.Jakarta: Erlangga.
Sabri, H.M. Alisuf.1996. Psikologi
Pendidikan.Jakarta: Pedoman Ilmu jaya.
Sholeh, Abu Ahmadi dan Munawar.2005. Psikologi Perkembangan.Jakarta:
PT. Rineka Cipta.
[3] Abd. Rachman abror, Psikologi
Pendidikan, (Yogyakarta: PT. Tiara Wacana Yogya, 1993), hlm. 24-25.
[5] Jeanne Ellis Ormrod, Psikologi
Pendidikan Membantu Siswa Tumbuh dan Berkembang, (Jakarta: Erlangga, 2008),
hlm. 43-47.
[6] https://www.google.co.id/url?q=https://yustinusjokodwinugroho.files.wordpress.com/2012/03/perkembangan-kognitif-dan-linguistik.com diakses pada hari Jum’at 08 September 2017 pukul 13:09 WIB.
[9] Abu Ahmadi dan Munawar Sholeh,
Psikologi Perkembangan, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2005), hlm. 102-103.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar